Dosamu Sendiri (puisi)
Dosamu Sendiri
Siuuuupppp husshhh
Suara angin mengantar ketuk pintu
Tuaaannn.....
Apa yang lebih romantis
dari jamuan makan malam bertabur
lilin tuannn??
Suara derap kakinyanya anak-anak bangsaku yang pergi sekolah
meski tak bersepatu.
Puannn....
Apa yang lebih khidmat dari upacara kemerdekaan diistana
negara puan ?
Suara belajar mengajinya anak-anak bangsaku ditengah sunyi
malam bertabur gemintang.
Tuann...
Apa yang lebih syahdu dari alunan musik jazz
di tengah
lembah kasih mandalawangi tuann??
Suara ba bi bu belajar membacanya anak anak bangsaku
meski
buku hanyalah satu..
Tuan melotott
Matanya siap mencengkram
Turun dari singsananya bersiap menerkamku..
SAUDARAAAAAA....
Apa yang lebih menyedihkan
dari banyaknya pengangguran dan
kelaparan saudara??
Tak ingin hilang intelektualitasku aku jawab
Sampah barangkali..
Iyamakin menghampirii , berteriak
Rasa tak berdosanya
para terpelajar akan sebangsanya sendiri yang butuh pembelajaran.
yang lebih menyedihkannya lagi saudara
Mereka sibuk memperkaya diri sendiri
menutup kuping atas panggilan bangsanya yang meraung raung
memanggil namanya.
Seketika bergetar seluruh tubuhku layu semua sendi sendiku,
luluhlantah
pendalamanku luntur sudah yang katanya
ilmu.
Ambruk telah dari diriku jutaan panah tak kasat mata menikam
jantung rusuk dan empedu
Dalam gelap gulita tangan menakar cakar ke arah udara
mencoba berpegang tapi tak kuasa,
Suuuiuuppp angin berhembus
“Mampus kau ditikam
malu, dosamu sendiri sadarlah”
Gumilang Mula Putra S. Kukuk sumpung, 2019
Komentar
Posting Komentar